Subnetting

Subnetting berguna untuk membagi sebuah jaringan menjadi beberapa sub jaringan (subnet) yang lebih kecil. Dalam subnetting, dikenal istilah subnet mask. Subnet mask yang biasa kita temui jika kita melihat konfigurasi IP address di komputer-komputer adalah 255.255.255.0. Dengan subnet mask seperti itu, dalam jaringan tersebut bisa terdapat 256 IP address, dengan 254 IP address yang dapat digunakan, satu IP address sebagai network ID, dan satu IP address sebagai broadcast address.

Misalnya terdapat sebuah jaringan dengan network address 192.168.16.0 dan subnet mask 255.255.255.0, maka IP address yang terdapat dalam jaringan tersebut adalah sebagai berikut.

Network ID: 192.168.16.0
Broadcast Address: 192.168.16.255
Available IP Address: 192.168.16.1 - 192.168.16.254

IP address pertama dalam suatu subnet berfungsi sebagai network ID dari subnet tersebut. IP address ini tidak dapat digunakan untuk perangkat-perangkat di dalam jaringan, baik itu komputer, router, atau yang lainnya. Sementara IP address terakhir dalam suatu subnet berfungsi sebagai broadcast address, sehingga jika kita mengirimkan paket data ke alamat tersebut, paket data tersebut akan dikirimkan ke semua perangkat yang berada di dalam subnet itu.

Dari contoh di atas, dapat kita lihat jika subnet dengan subnet mask 255.255.255.0 dapat berisi 254 perangkat komputer. Bagaimana jika kita hanya membutuhkan jaringan dengan 30 perangkat komputer?

Jika kita membutuhkan jaringan dengan 30 perangkat komputer, jika kita menggunakan subnet mask 255.255.255.0, akan ada sebanyak 224 IP address yang tidak terpakai. Karena itu, kita melakukan yang disebut dengan subnetting. Subnet mask 255.255.255.0 tadi perlu diubah menjadi bilangan biner agar dapat dilakukan perhitungan.

Subnet Mask
Decimal: 255.255.255.0
Binary: 1111 1111 . 1111 1111 . 1111 1111 . 0000 0000

Setiap angka pada segmen-segmen dalam penulisan IP address dan subnet mask dapat dikonversi menjadi bilangan biner, masing-masing sepanjang 8 bit. IPv4 memiliki panjang 32 bit, terdiri dari 4 segmen yang masing-masing terdiri dari 8 bit. Jika kita menggunakan network address 192.168.16.0, IP tersebut dapat diubah menjadi bilangan biner seperti ini.

Network Address
Decimal: 192.168.16.0
Binary: 1100 0000 . 1010 1000 . 0001 0000 . 0000 0000

Karena pada subnet masknya ada 24 bit berderet yang bernilai 1, maka network address tersebut dapat ditulis 192.168.16.0/24. Ini artinya 24 bit pertama dalam network address tersebut tidak boleh diganti, sehingga yang nilainya dapat diubah hanya 8 bit terakhir. Karena itu, dalam subnet tersebut terdapat 256 IP address.

Untuk memperkecil subnetnya agar bisa menghubungkan 30 perangkat komputer tanpa membuang banyak IP address, maka subnet masknya harus diubah. Untuk mengubahnya, kita perlu menghitung nilai x dari nilai 2x yang terkecil yang lebih dari atau sama dengan 30. Tetapi perlu diingat jika akan ada 2 IP address yang tidak dapat digunakan dalam jaringan, sehingga kita perlu menghitung nilai x dari nilai 2x yang terkecil yang lebih dari atau sama dengan 32.

2x = 32
2x = 25
x = 5

Nilai x menunjukkan deretan bit bernilai 0 yang berada di ujung kanan deretan bit string subnet mask. Karena itu, subnet masknya menjadi seperti ini.

Subnet Mask
Binary: 1111 1111 . 1111 1111 . 1111 1111 . 1110 0000
Decimal: 255.255.255.224

Untuk menghitung nilai IP terkecil dalam subnet tersebut (network ID), kita bisa menggunakan operator AND antara subnet mask dengan network address yang ditulis dalam bilangan biner.

1111 1111 . 1111 1111 . 1111 1111 . 1110 0000 -> Subnet Mask
1100 0000 . 1010 1000 . 0001 0000 . 0000 0000 -> Network Address
--------------------------------------------- AND
1100 0000 . 1010 1000 . 0001 0000 . 0000 0000 -> Network ID

Network ID: 192.168.16.0

Sementara untuk menghitung nilai IP terbesar dalam subnet tersebut (broadcast address), kita menggunakan operator OR antara negasi dari subnet mask dengan network address yang ditulis dalam bilangan biner.

0000 0000 . 0000 0000 . 0000 0000 . 0001 1111
1100 0000 . 1010 1000 . 0001 0000 . 0000 0000 -> Network Address
--------------------------------------------- OR
1100 0000 . 1010 1000 . 0001 0000 . 0001 1111 -> Broadcast Address

Broadcast Address: 192.168.16.31

Maka, IP address yang dapat digunakan dalam subnet tersebut dimulai dari 192.168.16.1 sampai dengan 192.168.16.30. Bagaimana dengan sisa IP address yang tidak terpakai? IP address tersebut dapat digunakan dalam subnet-subnet yang lain. Dengan menggunakan subnet tersebut pada metode subnetting dengan cara classless dengan SLSM (static-length subnet mask), terdapat 8 subnet dalam jaringan dengan network address 192.168.16.31 tersebut. Jumlah subnetnya dapat dihitung dengan cara mencari nilai y dari nilai x yang telah didapatkan tadi.

y = 8 - x
y = 8 - 5
y = 3

Total Subnets: 2y = 23 = 8

Berikut ini IP address yang berada di masing-masing subnet tersebut.

Subnet I
Network ID: 192.168.16.0
Broadcast Address: 192.168.16.31
Available IP Address: 192.168.16.1 - 192.168.16.30

Subnet II
Network ID: 192.168.16.32
Broadcast Address: 192.168.16.63
Available IP Address: 192.168.16.33 - 192.168.16.62

Subnet III
Network ID: 192.168.16.64
Broadcast Address: 192.168.16.95
Available IP Address: 192.168.16.65 - 192.168.16.94

Subnet IV
Network ID: 192.168.16.96
Broadcast Address: 192.168.16.127
Available IP Address: 192.168.16.97 - 192.168.16.126

Subnet V
Network ID: 192.168.16.128
Broadcast Address: 192.168.16.159
Available IP Address: 192.168.16.129 - 192.168.16.158

Subnet VI
Network ID: 192.168.16.160
Broadcast Address: 192.168.16.191
Available IP Address: 192.168.16.161 - 192.168.16.190

Subnet VII
Network ID: 192.168.16.192
Broadcast Address: 192.168.16.223
Available IP Address: 192.168.16.193 - 192.168.16.222

Subnet VIII
Network ID: 192.168.16.224
Broadcast Address: 192.168.16.255
Available IP Address: 192.168.16.225 - 192.168.16.254

Jika menggunakan subnetting dengan metode classful, maka subnet yang dapat digunakan dari kedelapan subnet tersebut hanya subnet II sampai dengan subnet VII, karena dalam metode classful subnet pertama dan subnet terakhir dalam sebuah jaringan sebaiknya tidak digunakan.

3 thoughts on “Subnetting

  1. Pingback: VLSM Classless Subnetting « Twisted Pair

  2. Pingback: Router & Routing | Twisted Pair

  3. Pingback: Seven Layers of OSI Model | Twisted Pair

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s